Melewatkanmu di lembaran hariku
Selalu terhenti di batas senyumanmu
Walau berakhir cinta kita berdua
Hati ini tak ingin dan selalu berdusta
Lupakanmu takkan mudah bagiku
Selalu ku coba namun aku tak mampu
Membuang semua kisah yang telah berlalu
Di sudut relung hatiku yang membisu ku merindukanmu
Harusnya ku telah melewatkanmu
Menghapuskanmu dari dalam benakku
Namun ternyata sulit bagiku
Merelakanmu pergi dari hatiku
Selalu ingin dekat tubuhmu
Namun aku tak bisa karena kau telah bahagia
Harusnya ku telah melewatkanmu
Menghapuskanmu dari dalam benakku
Namun ternyata sulit bagiku
Merelakanmu pergi dari hatiku (hatiku)
Selalu ingin dekat tubuhmu
Namun aku tak bisa, namun aku tak bisa
Karena kau telah bahagia
*ksbb setelah LBB
Life Story
one thing in life that will be forever is changes. man jadda wa jada :)
Minggu, 25 November 2012
Sabtu, 21 Juli 2012
Tempo 70/menit
Teman-temanku capas GK 2012 tercintaaaaa, ini nih temponya.. 70/menit!
download sendiri yaaa :)) klik disini untuk download !
download sendiri yaaa :)) klik disini untuk download !
Kamis, 21 Juni 2012
Ada Yang Hilang (Ipang)
Ada Yang Hilang
Melihat kau pergi dari sisiku
Dari sampingku
Tinggalkan aku seakan semuanya
Yang pernah terjadi
Tak lagi kau rasa
Masih adakah tentang aku
Di hatimu yang kau rasakan
Coba kau rasakan
Mudahkah bagimu untuk hapuskan
Semua kenangan bersama denganku
Tak pernah sedikit pun
Aku bayangkan betapa hebatnya
Cinta yang kau tanamkan
Hingga waktu beranjak pergi
Kau mampu hancurkan hatiku
Ada yang hilang dari perasaanku
Yang terlanjur sudah
Kuberikan padamu
Ternyata aku tak berarti tanpamu
Berharap kau tetap di sini
Berharap dan berharap lagi
Kamis, 03 Mei 2012
Yang Terlewatkan - Sheila On 7
Kemana kau s’lama ini
Bidadari yang kunanti
Kenapa baru sekarang
Kita dipertemukan
Sesal tak ‘kan ada arti
Karna semua t’lah terjdi
Kini kau t'lah menjalani
Sisa hidup dengannya
Mungkin salahku… Melewatkanmu…
Tak mencarimu… Sepenuh hati…
Maafkan aku…
Kesalahanku… Melewatkanmu…
Hingga kau kini… Dengan yang lain…
Maafkan aku…
Jika berulang kembali
Kau tak akan terlewati
Segenap hati kucari
Di mana kau berada
Walau ku terlambat
Kau tetap yang terhebat
Melihatmu… Mendengarmu…
Kaulah yang terhebat
This song is dedicated to my beloved brother, why were we met when you will gone? =')
Nice to know you, brother :))
Nice to know you, brother :))
Minggu, 01 Januari 2012
Dari Hati - Club'80
Aku ngepost ini karena keinget seseorang yang nyanyiin ini pada tanggal ini. 1 Januari tahun lalu. 1-1-2011 Waktu aku masih SMP, di depan kelas 8D. Hehe, gak maksud apa-apa sih, cuma aku bener-bener keinget sama semuanya :)
Terimakasih telah menerimaku, walaupun kita harus berakhir :")
Terimakasih untuk semua waktu yang telah kau luangkan bersamaku :")
Maafkan aku jikaku telah menyakitimu dengan berbagai cara :"(
Terimakasih dan maaf :")
Hasna Syarifatul Rosyidah
Dari Hati
Andai enkau tahu
Bila menjadi aku, sejuta rasa dihati
Lama tlah kupendam,
Tapi akan kucoba mengatakan
Ku ingin kau menjadi milikku
Entah bagaimana caranya
Lihatlah mataku untuk memintamu
Ku ingin jalani bersamamu
Coba dengan sepenuh hati
Ku ingin jujur apa adanya
Dari hati
Kini engkau tahu aku menginginkanmu
Tapi takkan kupaksakan
Dan kupastikan
Kau belahan hati
Bila milikku.
Menarilah bersamaku
Dengan bintang-bintang
Sambutlah diriku
Untuk memelukmu
Terimakasih telah menerimaku, walaupun kita harus berakhir :")
Terimakasih untuk semua waktu yang telah kau luangkan bersamaku :")
Maafkan aku jikaku telah menyakitimu dengan berbagai cara :"(
Terimakasih dan maaf :")
Hasna Syarifatul Rosyidah
Dari Hati
Andai enkau tahu
Bila menjadi aku, sejuta rasa dihati
Lama tlah kupendam,
Tapi akan kucoba mengatakan
Ku ingin kau menjadi milikku
Entah bagaimana caranya
Lihatlah mataku untuk memintamu
Ku ingin jalani bersamamu
Coba dengan sepenuh hati
Ku ingin jujur apa adanya
Dari hati
Kini engkau tahu aku menginginkanmu
Tapi takkan kupaksakan
Dan kupastikan
Kau belahan hati
Bila milikku.
Menarilah bersamaku
Dengan bintang-bintang
Sambutlah diriku
Untuk memelukmu
Sabtu, 31 Desember 2011
Waktu Yang Tidak Ku Tentukan
Udara yang kurasakan disini masih sama. Akupun masih berdiri ditempat yang sama. Tapi kini kurasakan yang tidak lagi sama, rasa sepi ini bernama tanpanya.
Seperempat abad yang lalu.
Entah mengapa aku malas untuk ikut bermain kedalam biru air laut pantai di pesisir selatan kotaku. Maka aku memutuskan untuk duduk di atas sini, memandangi kawan lain yang lain tertawa riang. Tiba-tiba dia menepuk pundakku dengan cara yang sudah sering ku dapati. Tentunya aku tersentak, lamunku terbuyar. Tanpa pikir panjang dia duduk di sampingku dengan senyum mengembang tanpa rasa bersalah.
Sejenak kami terdiam memandangi biru laut. Ditemani nyiur yang melambai dengan gemulainya. Debur ombak menjadi irama pengisi kebisuan kami. Di batu hitam besar ini kami duduk berdua. Ku tengok wajahnya yang teduh, dia masih terdiam. Lalu ia membalas tatapanku, masih sama seperti saat pertama kali ku temuinya di sudut sekolah. Tajam, penuh misteri. Dia tersenyum simpel.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya duduk disini bersamaku, bagaimana perasaanku? Aku tak bisa mendefinisikannya. Satu yang benar-benar ku rasa, menegang tenang dalam diam disampingnya. Sesaat aku berfikir aku akan memulai suatu obrolan, tapi apa topik yang tepat untukku memulai? Otakku berputar keras, layaknya sebuah mesin disel yang baru saja dinyalakan, bingung. Sayang, mulut ini kalah cepat dengan mulutnya, se-per-sekian-detik sebelum aku mulai berbicara padanya, ia sudah terlebih dahulu membuka percakapan ini. Sebuah sapaan singkat.
Ia menanyakan mengapa aku tak bersama yang lain bermain ombak di bawah sana. Tentu ku jawab bahwa aku sedang enggan bermain meskipun momen ini sangat langka. Ia hanya mengangguk dan ber-yaaa panjang mendengar penjelasanku yang singkat dan cukup ambigu itu. Tak ku sia-siakan kesempatan ini, aku pun menanyakan hal yang sama kepadanya. Malang, ia tak mau menjawabnya. Hanya senyum kecil yang menghiasi wajahnya sesaat setelah pertanyaanku terlontar. Kembali bisu membelenggu kami.
“Aku sedang kehilangan rasionalku sehingga aku tak tahu mengapa aku tak mau ke bawah sana, dan berfikir bahwa lebih baik jika ku menemanimu disini.” Kata-katanya terlontar sekekita dengan susunan tingkat dewa membuatku tertegun. Senyumnya tak begitu saja lenyap dari parasnya, satu alisnya terangkat tanpa diikuti alis lainnya. Aku masih cukup terkejut mendengar apa yang baru saja terlontar dari bibirnya. Aku sendiri tak sepenuhnya mengerti apa maksud dari perkataannya, yakin dia hanya bercanda, tapi anehnya dia tetap memandangiku dengan tatap serius di matanya. Walaupun tetap dengan senyum mengembang di bibirnya.
Tawa kecilku muncul dengan sedikit paksaan dari dalam diriku. “Hahaa, kamu bercandaa! Ya kan? Ya kan ? Ya kan?” kataku dengan mengacungkan telunjuk ke hidung besarnya, sedikit menggodanya, seperti biasa. Tawaku sedikit membesar, dan ia pun ikut tertawa bersamaku. Tawanya dingin dan berlalu begitu singkat. Wajahnya berubah sangat serius seketika. Aku gugup, bibirku mengatup cepat. Apa yang terjadi?
“Mmm, apa aku salah berbicara? Maaf, aku tidak sengaja. Tapi, aku..”
Dengan cepat telunjuknya menempel di bibirku. Aku tak berkutik. Bibirku mengatup dan tak sedikitpun suara terdengar. Dengan lembut, ia menarik daguku agar aku menatapnya lebih dekat. Namun, segera ku tangkis tangannya, sedikit mundur karena posisi yang sungguh tak ku inginkan, namum tatapanku tak lekat dari matanya. Tidak, aku tak boleh menatapnya terlalu lama. Ini begitu salah. Salah. Dan, seraya membetulkan posisiku duduk karena kakiku yang kesemutan, ia berkata.
“Aku sedang ingin serius. Dengar ini. Waktu itu, pertama kali ku melihatmu di sudut sekolah, kau tersenyum malu kepadaku. Benar kan?”
Aku mengangguk dengan malu-malu, tetap tatap tanpa kata. Benar-benar malu aku kala itu. Konyol. Saat kami pertama kali bertemu di anak tangga terakhir di belakang kelasku. Kami sama-sama terburu-buru. Kami berjalan pada arah yang berlawanan, tanpa ku tahu ia menyenggol bahu kananku. Aku sedikit mengaduh karena itu, bahunya terasa keras menenggal bahuku. Ia meminta maaf dengan memohon kepadaku. Terlihat bahwa ia sangat buru-buru, sekali lagi ia meminta maaf, melontarkan senyum indah yang tak semua orang bisa melihatnya untuk pertama kalinya. Aku hanya membalas senyum dengan tetap mengusap-usap bahuku yang lupayan kelu karena tertabrak olehnya. Malu. Entah mengapa.
“Aku tak tahu kenapa kita bisa bertemu, tentu takdir yang mempertemukan. Sebenarnya itu hanya pertemuan sederhana, bukan? Namun sejak saat itu, setiap kali aku bertemu lagi denganmu, ada sesuatu yang tak ku tahu itu apa, menggetarkan hatiku, terlebih saat aku menatap dalam matamu dan melihat senyummu yang tak pernah berubah itu---“
Ia menarik nafas berat. Sesaat.
“Mungkin kau tak pernah menyadari kegugupan yang menyerangku amat luar biasa itu, yakan? Tentunya. Dan kita tahu sendiri sekarang ini kita duduk di kelas tiga SMU. Tak lama lagi kita memasuki bangku kuliah. Kita akan berpisah ya? Hm, aku tak tahu apa jadinya jika aku tak bisa bertemu denganmu setiap hari lagi nanti. Kau tahu? Selama tiga tahun menjadi temanmu, ya bisa dibilang kita tidak berteman dekat, aku merasa sangat beruntung. Disaat aku benar-benar membutuhkan sesuatu dan tak tahu harus berlari kemana, kau justru yang ada untukku. Kau ada untukku!”, lanjutnya dengan ekspresi yang tak bisa ku tebak apa maksud dari semua itu. Aku masih terdiam.
“Kamu bingung ya?”, sambil tertawa kecil, ia mengejekku.
“Makannya, dengerin baik-baik! Jangan terpesona melihat tampang kerenku ini!”, tawanya lebar, terlihat amat bahagia.
“Enak aja! Siapa juga yang terpesona dengan tampangmu itu, tampang pas-pasan aja dibangga-banggain!huuuu!”, aku menimpalinya dengan ekspresi sepenuhnya bercanda.
“Oh, jadi selama ini? Kamu terpesona denganku? Kamu?”
“Aduuuuhhh, pede-nya nggak ketulungan kamu ini. Aku bilang aku sama sekali NGGAK terpesona dengan tampangmu!” tawaku tertahan seiring dengan kalimat yang telah ku katakan.
“Iyadeh, mau dilanjutin nggak nih aku ceritanya?”, datar---
“Mau dong!”, antusias sekali nada bicaraku.
“Dan entah sejak kapan, sisip-sisip rindu mulai menelisik masuk ke dalam hatiku. Aku menunggumu di tangga itu lagi, aku mencarimu ketika aku ke kantin sekolah, di mushola-pun aku mencari sosokmu, tapi inget ya niatku tetep hanya karena hendak beribadah pada Tuhan kalo ke mushola bukan nyari kamu. Aneh ya aku ini, kapasitasku hanya sebatas temanmu, tapi perasaanku entahlah, maafkan aku.”
Kembali, dia menarik nafas berat. Dalam. Aku benar-benar terkejut mendengar apa yang ia katakan dengan lanca, meskipun aku tak sepenuhnya mengerti. Tercengang. Nafasku seakan tertahan rapat didalam ribuan alveolus paru-paru dan tak mau keluar. Kakiku terasa ngilu dan kaku, tanganku dingin. Aku tak tahu apa yang harus ku katakan padanya. Mataku menatap tajam ke dalam matanya hanya dalam beberapa detik saja, begitu pula sebaliknya sesaat setelah ia menunduk entah karena takut atau lega. Aku sungguh takut akan dosa, ini salah. Kebisuan kembali membelenggu kami, hanya angin semilir yang mengalir di sela rambut hitam kakunya dan debur ombak yang semakin siang semakin kencang terdengar.
Sungguh aku tak tahu apa yang harus ku katakan, aku takut juga linglung. Ku telisik kembali apa yang sebenarnya sudah pernah ku pikirkan ini, juga akan keyakinan yang sudah lemah, terpudarkan seiring berjalannya waktu. Tak benar hilang, hanya melemah terpuruk dalam bersama kesibukan yang mendera. Tak digubris, karena kupikir tak akan pernah mungkin terbalaskan. Hingga hanya kalimat ini yang menguatkanku setiap kali aku tanpa sengaja bertemu dan melihat ke dalam matanya, berbisik sendiri dalam hati, “Tenang, banyak hal yang akan indah pada waktunya, semua sudah menjadi ketentuan Tuhan, tak perlu takut, masih banyak yang perlu dipikirkan selain ini, tenang”. Hingga tak ku sangka, ternyata inilah waktu yang Tuhan berikan untukku menyampaikan semuanya.
Ku hela nafas berat. Sel-sel tubuhku perlahan seakan hidup kembali setelah sesaat kurasa terhenti. Otakku mulai berfikir untuk menyusun kata-kata terbaik. Perlahan mulutku mulai bertutur..
“Baiklah. Dengarkan ini.”
Dengan senyum seikhlas mungkin, aku menguatkan diriku untuk bisa sebentar menatapnya. Lidahku amat kelu. Ia menatapku antusias. Anggukan kecil tergerak dari kepalanya.
“Semua ini kusimpan sendiri. Tak ada orang yang tahu akan hal ini, aku sungguh merahasiakan ini dari semua orang. Tapi, aku harus menceritakan ini padamu, sekarang atau tidak sama sekali.” Diam sejenak---
“Aku tak pernah tahu apa yang selalu ku rasakan. Aku merasa ada yang aneh dalam hati ini. Pada awalnya yang ku rasa, semua ini benar-benar membuatku gelisah. Rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi. Sungguh, aku merasa amat berdosa, malu aku pada diriku sendiri. Aku bahagia saat aku diam-diam bisa menatapnya meski dari jauh. Aku selalu bahagia saat tanpa sengaja aku berpapasan dengannya. Aku menyimpan ini semua dalam diamku, dalam senyumku, dalam setiap tulis tanganku, dalam setiap gerakku, dalam setiap detak jantungku, dalam setiap desah nafasku, dalam setiap langkah kakiku.” Kalimat yang kurasa ku ucapkan dari hatiku yang paling dalam.
Dia menatapku serius, “Siapa dia? Apa itu aku?”, tanyanya penuh rasa penasaran.
Aku terdiam, tanpa ku lakukan suatu apapun. Hanya hembusan nafas dan detak jantung yang kuat berderu. Semakin lama semakin kuat, nafasku terendat. Konflik batin seketika menjeratku.
“Berlebihan sekali ya aku ini. Bodoh sekali aku, hanya dengan melihat senyumnya saja aku merasa bahagia---”
“Keyakinan itu sempat kuat mengakar dalam hatiku. Hingga sulit benar aku mencabutnya. Hingga keyakinan itu terpuruk dalam sehingga melemah kurasakan. Yang ku tahu, menunggu itu bukanlah hal mudah. Tanpa ikhlasan penuh, menunggu itu hanyalah akan menjadi hal yang sia-sia. Bahkan sekarang, aku berfikir tak perlu dia mengtahuinya sekarang, cukup kelak ia tahu ketika semuanya benar-benar indah”
Degup jantungku yang semakin tak terkendali, nyata kurasakan.
“Mengaguminya dari sisi terjauhku. Itu sudah cukup membuatku senang, tak pernah terfikir akan semua ini sebelumnya. Biar semua ku simpan sendiri maksudku, tapi sepertinya aku salah. Orang itu telah mengatakan semuanya. Aku…”
Kalimatku terhenti. Dia memotong kata-kataku dengan cara yang amat sederhana, menggenggam tanganku. Begitu dingin, begitu kuat. Mata elangnya kembali menatapku dengan tajam, namun satu kepenatan dalam hatiku mulai luluh menjauh bergeming dari hati yang sekian lama terpendam dalam. Ia tersenyum. Secepat mungkin aku mencoba untuk lepaskan genggaman tangannya.
“Aku menyayangimu.” Ucapnya singkat tanpa menatapku.
“Aku tahu” Jawabku singkat tanpa ku tatapnya juga. Debur ombak menjadi lampiasan tatap mataku.
“Apakah mungkin, bila kita mencoba untuk melewati hari bersama-sama?”, kalimatnya terputus. Aku mengerti apa yang dia maksud.
Aku tersenyum geli, “Bukankah kita sudah melewati hari-hari kita bersama setiap harinya, bersama teman-teman yang lain juga?”
Dia menggaruk kepalanya yang terlihat baik-baik saja, dia tersenyum sedikit tertawa, lalu berkata masih dalam tawany. “Maksud aku, apa kamu mau menjadi pengisi hari-hariku agar lebih terasa indah?”
Aku sudah menduga arah pembicaraan ini akhirnya. Namun sekali lagi, jauh hari aku sudah pernah memikirkan semua kemungkinan ini. Kemungkinan perasaan yang akan selamnya terpendam ataupun yang akan terungkapkan. Dan kini saat itu pun tiba, dimana segala sesuatu tentang hatinya dan hatiku telah terungkapkan. Meskipun begitu, aku merasa gugup, layaknya para prajurit perang yang siap bertempur di medan perang mencurahkan seluruh kemampuannya, begitupun aku. Mengerahkan seluruh keberanianku untuk mengatakan semuanya. Sedikit senyum untuk mengawali ini.
“Aku mungkin orang beruntung karena disayangi oleh orang orang sepertimu, kau ini lebih dari indah dimata kaum hawa yang mengenalmu. Tapi apakah kau mau merusak semua yang telah kita lalui bersama selama ini yang tanpa suatu keterikatan, dengan satu ikatan yang tentunya idak halal?”
Ia tercengang mendengar apa yang ku katakan.
“Tunggu, dengarkan aku dulu. Selama ini, jauh lebih bahagia ketika aku menjadi temanmu, meskipun bukan teman dekatmu. Aku benar-benar bisa menjaga, mengendalikan perasaanku, fitrahku. Tapi coba kau bayangkan, kelak, ketika kita bersama dalam satu ikatan, lantas jika itu berakhir, dan semuanya rusak seketika. Kau tau, tak pernah ada mantan sahabat, tapi yang ada mantan pacar. Aku tak ingin kehilanganmu karena ikatan semacam itu, sungguh. ”
Dia semakin tercengan mendengar penjelasanku tersebut. Mungkin, hatinya runtuh seketika, mugkin, nuraninya terluka, tapi aku tak bermaksud melakukan ini. Ia terdiam, benar-benar diam. Perasaan bersalah, mulai menghantuiku. Menyergapku dari segala arah. Siap menerkamku tanpa ampun.
“Hey? Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu sakit, aku tak bermaksud membuatmu terluka, tapi, aku benar-benar tak ingin merusak apa yang telah kita lewati selama ini tanpa ikatan itu, aku tak ingin kehilanganmu dengan cara yang menyaitkan kelak. Maafkan aku.”
Aku tertunduk lesu, tak tahu apa yang harus ku ucap lagi. Aku menyakiti orang yang tak seharusnya ku sakiti. Rasa bersalah bergejolak membakar hatiku yang sudah remuk redam, meski telah sedikit ku persiapkan sebelumnya. Tapi faktanya, semua ini tak semudah yang ku bayangkan. Jauh dari sekedar berucap, ini dari hati.
“Kamu kenapa? Kok jadi lesu gitu?” Katanya singkat dengan hiasan senyum di bibirnya, seperti tanpa rasa sakit. Dia tetap tersenyum, dan senyum itu, bukan senyum buatan, itu senyum tulusnya yang selalu ku lihat selama ini! Tanpa berlama lagi dia melanjutkan kata-katanya.
“Tidak usah terlalu dipikirkan, aku setuju dengan apa yang kamu katakan. Semua ini jauh lebih indah ketika kita tak dalam satu ikatan. Selama ini, banyak waktuku menunggumu, mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya padamu, selama penantianku, selama ku simpan rasa itu, tak sedikitpun ia berubah. Sampai waktu inipun, dan entah sampai waktu yang tidak ditentukan, aku tau ia takkan pernah berubah. Kau perlu tau, aku tak pernah ingin menjadi mantan pacarmu juga. Jangan pernah menyesal kau mengungkapkan ini padaku, karena aku bahagia bersamamu, dengan atau tanpa ikatan itu, dekat atau jauhnya jarakku denganmu. Aku menyayangimu, sampai waktu yang tidak ku tentukan. Tetaplah menjadi dirimu, jangan pernah sedikitpun merubah sikapmu padaku. Jikalau kau memang milikku, semua ini akan berakhir jauh leboh indah. Percayalah.”
Tanpa ku tahu, cairan bening menetes dari mataku dan mulai mengalir di pipiku. Aku tak pernah menduga betapa besar hatinya menerima semua ini. Yang kufikir akan merusak segalanya, menghancurkan keping-keping hari bersama yang beritu indah tanpa ikatan. Otakku merekam kuat, kata-katanya begitu saja tersimpan di benakku meski telah berlalu, meski ia telah menutup bibirnya. Tanpa ku sadari, air mataku semakin deras mengalir meski tanpa suara, hanya isak yang terdengar. Tangan kasarnya menepis air mataku dengan lembut dipipiku. Aku tak mengerti apa yang terjadi, mengapa begini, mengapa ku teteskan air mata. Air mata yang tak seharusnya tidak dilihatnya. Yang seharusnya ia yang menangis.
Kemudian, kami kembali tenggelam dalam kebisuan, tersibukkan dengan angan masing-masing. Aku benar-benar tak bisa mengungkapkan apapun lagi. dayaku telah habis. Dalam hatiku, aku tak pernah mau ini berakhir, aku tak pernah ingin hari ini berlalu, satu ganjalan hatiku mencair begitu saja, membuatku tak canggung lagi di dekatnya. Semuanya lebih nyaman. Aku, tak menyimpan lagi semua itu.
Tanpa permisi, ia meletakkan tangannya di bakuku. Ia mendekat. Meskipun berjarak beberapa sentimeter, namun detak jantungnya yang berdegup tak normal terdengar laksana alunan melodi di dalam telingaku. Helaan nafas beratnya kembali terhembus, seperti ia telah melepaskan suatu yang amat sangat menyiksanya. Air mataku, tetap saja mengalir tak terbendung. Perasaan bersalah memang masih sedikit mencengkram hatiku, namun akan ku coba mengikhlaskan semuanya. Dalam hatiku, aku berkata. Jika ada orang yang bisa menunggu dan menyayangimu lebih dari aku, silahkan pergi dan bersamalah dia, namun jika tidak ada, tetaplah bersamaku entah kapanpun itu waktunya.
***
Saat semua telah terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan itu harus terjadi saat semua kebahagiaan itu muncul kembali.
Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa setelah sedikit rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika pagi, dia menyapaku dengan lembutnya. Saat siang, dia menyempatkan waktu di tengah kesibukannya bekerja untukku dan mereka untuk sekedar mengingatkan agar tidak terlambat makan. Saat sore, dia menyapaku lagi, bercerita tentang hari-harinya di luar rumah, lelah dan bahagianya pada hari itu. Saat malam, dia menjerat pikiranku untuk berfokus padanya, disampingku yang tertidur lelah. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kami lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.
Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita semua lewati tanpa kita tahu kapan itu akan terjadi. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus melepaskannya.
Percayalah bahwa pertemuan kita itu tidak sia-sia. Kini, aku kembali duduk disini. Masih dengan nyiur yang tetap melambai gemulai yang tentu kian menua tiap harinya, dengan ombak yang selalu berdebur tak pernah surut, dengan batu besar yang sudah semakin lapuk. Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjanya, tawa renyahnya, cerita sok-lucu-nya, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenanya. Masih jelas teringat apa saja yang dia katakan waktu itu, masih terngiang semua kata yang terucap dari bibrnya. Aku seakan kembali dalam masa laluku, di tempat ini. Dan aku merasakan sesuatu itu masih bergetar di dalam sini, di dalam hatiku. Dan, aku harus mengikhlaskan semuanya dari memori otakku agar kamu tak lagi membuat seluruh kenangan itu menjadi nyata dan kembali layaknya menjadi realita.
Hadirnya ku rasakan begitu dekat disini, meski dimensi ruang telah memisahkan kita. Dia selalu di sampingku, meski hanya bayangan semu. Ku tahu, dia takkan pernah kembali disini, bersamaku. Aku yakin, dia merasakan juga semua kebahagiaanku, dukaku, tangisku, candaku, tawaku dari tempat terindahnya.
Aku tak tahu apa yang harus ku rasakan saat ini. Aku berdiri disini, bersama satu sosok perempuan dan satu sosok laki-laki yang selalu mengisi hariku, bahagiaku, dan mengingatkan semua tentangnya. Bersama mereka yang melengkapiku setelah kepergiannya, meski tak benar pernah lengkap bagiku. Bersama orang yang didalamnya teraliri oleh darahnya. Bersama mereka yang sempat singgah di rahimku selama 9 bulan 10 hari. Aku berjanji akan merawat mereka, seperti aku merawat perasaanku yang berujung pada sesuatu yang tak pernah ku duga sebelumnya, sesuatu yang tek pernah ku rencanakan sebelumnya. Hingga aku benar-benar bahagia dengan semboyanku kala itu, begitu banyak hal yang akan indah pada waktunya, semua sudah menjadi ketentuan Tuhan, tak perlu takut. Tuhan yang akan menjaganya, Tuhan selalu bersamanya, bersamku, dan bersama kami disini.
Tak peduli benar waktu, dimensi, alam, dan apapun itu. Yang ku tahu kini, aku akan tetap menyayangimu, sampai waktu yang tidak ku tentukan.
Kamis, 10 November 2011
Avril Lavigne - Innocene | Lyrics
Waking up i see that everything is ok
the first time in my life and now it's so great
slowing down i look around and i am so amazed
i think about the little things that make life great
i wouldn't change a thing about it
this is the best feeling
this innocence is brilliant, i hope that it will stay
this moment is perfect, please don't go away, i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
i found a place so safe, not a single tear
the first time in my life and now it's so clear
feel calm i belong, i'm so happy here
it's so strong and now i let myself be sincere
i wouldn't change a thing about it
this is the best feeling
this innocence is brilliant, i hope that it will stay
this moment is perfect, please don't go away, i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
it's the state of bliss you think you're dreaming
it's the happiness inside that you're feeling
it's so beautiful it makes you wanna cry
it's the state of bliss you think you're dreaming
it's the happiness inside that you're feeling
it's so beautiful it makes you wanna cry
it's so beautiful it makes you want to cry
this innocence is brilliant, it makes you want to cry
this innocence is brilliance, please don't go away
cause i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
this innocence is brilliant, i hope that it will stay
this moment is perfect, please don't go away, i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
the first time in my life and now it's so great
slowing down i look around and i am so amazed
i think about the little things that make life great
i wouldn't change a thing about it
this is the best feeling
this innocence is brilliant, i hope that it will stay
this moment is perfect, please don't go away, i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
i found a place so safe, not a single tear
the first time in my life and now it's so clear
feel calm i belong, i'm so happy here
it's so strong and now i let myself be sincere
i wouldn't change a thing about it
this is the best feeling
this innocence is brilliant, i hope that it will stay
this moment is perfect, please don't go away, i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
it's the state of bliss you think you're dreaming
it's the happiness inside that you're feeling
it's so beautiful it makes you wanna cry
it's the state of bliss you think you're dreaming
it's the happiness inside that you're feeling
it's so beautiful it makes you wanna cry
it's so beautiful it makes you want to cry
this innocence is brilliant, it makes you want to cry
this innocence is brilliance, please don't go away
cause i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
this innocence is brilliant, i hope that it will stay
this moment is perfect, please don't go away, i need you now
and i'll hold on to it, don't you let it pass you by
Langganan:
Postingan (Atom)